Category: Kumpulan puisi penyair Indonesia


Malam yang hamil oleh benihku
Mencampakan anak sembilan bulan
Ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu
membawa dosa pertama
di keningnya. Tangisnya akan memberitakan
kelaparan dan rinduku, sakit
dan matiku. Ciumlah tanah
Yang menerbitkan derita. Dia
adalah nyawamu.

Dikutip dari:
Daerah Perbatasan
Subagio Sastrowardoyo

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad

yang tak takluk kepada gelombang, menjelma burung

yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga hutan di hutan;

di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.

 

“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”

 

 

Dikutip dari:

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

 

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-banyang
aku san bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

mata pisau itu tak berkedip manatapmu:
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

tolong tebarkan atasku bayang-bayang hidup yang lindap
kalau kau berziarah ke mari
tak tahan rasanya terkubur, megap
di bawah terik matahari

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pasa suatu hari
kita lupa untuk apa.

“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau, dan kata
kalian tahu, pisau berulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

sehabis suara gemuruh itu yang tampak olehku hanyalah tubuhmu telanjang dengan rambut terurai
mengapung di permukaan air bening yang mengalir tenang tak kau sahut penggilanku

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.