Gelitikkan, musim, panasmu ke usiaku
bersama matahari. Dari jauh
bumi tertidur oleh nafasmu, dan oleh daun
yang amat rimbun dan amat teduh
Dan seperti mimpi
laut kian perlahan
kian perlahan

Pada saat itu seorang tua pun jatuh di makamnya
Pada saat itu seorang anak pun bangkit dari bualannya
Ia tampil kepadaku, berbicara padaku:
saudaraku hembuskan sajak ke paru_paruku

Lalu kuhembuskan sajak ke rabunnya
Tapi ia tumbuh juga jadi tua
Meskipun matanya
ada puisi
yang seakan-akan menjanjikan
hidup abadi

(Maka aneh. Ketika ia mati musim belum lagi mati
Ketika ia ditanamkan, bunga tumbuh di pusat makam
Dan ketika ia dilupakan matahari
berkata pelan: sayang, memang sayang)

Dikutip dari:
Asmaradana
Goenawan Mohamad