Ia dengar kapak senyap kelelawar guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah ku serta langkahku
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Lalu melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang […] semuanya
disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok
pagi pada rumput halaman ada tapak yang menuju ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karea ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggulla, seperti dulu
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Dikutip dari:
Asmaradana
Goenawan Mohamad