mata pisau itu tak berkedip manatapmu:
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

dikutip dari:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono